11 MEI 2013 Harmoni Cisadane-Maroko Diatas langit Bogor.

Hari Ini

Lama sekali tak berbagi kisah, dan semoga yang membaca masih menantikan kisah perjalanan ini.
11 Mei 2013 akhirnya tiga huruf diantara 12 bulan ini pun datang menjelang. Dan apakah kau tahu apa yang kurasa? Sesak , mual, kaget, semua bercampur menjadi satu. Dan lebih gilanya hari ini adalah tanggal 11 dan saya belum menyiapkan apa-apa.
Seperti yang tertera dijudul cerita. Harmoni Cisadane-Maroko. Maroko? Ya sebuah negara yang masih bernuansa Arab di Afrika utara yang berbatasan langsung dengan benua Eropa, hanya dipisahkan oleh selat Jabal tarik untuk mencapai daratan Andalusia, itulah Maroko. Kelahiran sang penjelajah dunia yang mendunia, Ibnu Batuta. Lalu ada apa dengan Cisadane?
****
Hari sabtu, tepatnya hari inilah yang dinantikan oleh semua mahasiswa karena tak ada sesuatu yang bernama perkuliahan. Namun, hal itu tak berlaku bagi fakultas Pertanian, mau tak mau aturan harus dijalani, dan jadilah kamu duduk manis di ruangan panas untuk melaksanakan pembekalan KKP. Merenung di sudut kelas, dan harus menyadarkan diri bahwa sekarang sudah semester 6. Tingkat 3 kawan ! dan angkatan 50 yang paling bungsu pun akan datang ke tanah para pejuang. Tak ada alasan lagi untuk mengatakan bahwa kamu hidup dalam kepalsuan, karena sekarang KAMU SUDAH SEMESTER 6. Mau tak mau, ikhlas tak ikhlas semua harus kau syukuri karena tak semua orang dapat merasakannya. Ya bersyukur, lebih tepat daripada semua keluhan.

Hari ini, selepas pembekalan KKP kuniatkan untuk segera meluncur ke Plaza Kuningan, Jakarta. Tepatnya di kedutaan besar Maroko. Namun teringat bahwa sudah berjanji ke (Sebut saja ka B) untuk menjadi salah satu pemateri dalam NLT sebuah Organisasi yang telah membesarkanku tahun lalu. Maka kupacu arah menuju Gor Pajajaran Bogor. Teringat akan ruangan ini, teringat akan tahun lalu. Dimana saya menjadi salah satu peserta bersama saudara seiman lainnya untuk mendengar petuah dan materi ilmu dari yang telah dituakan. Dan saya pun ingat bahwa tahun lalu tepatnya disinilah ketika dinobatkan menjadi salah satu peserta terbaik, namun setoran hafalan ku belum lancar. Masih berhutang setoran pada Kak U. (Ka U ayooo dong di tagih #sering lupa ini) .berbicara tentang hafalan, saya teringat akan Imam Syafi’i pernah mengadu kepada gurunya waki’ mengenai hafalannya yang buruk. Katanya: Aku mengadu kepada Waki tentang buruknya hafalanku maka Waki menasehatiku untuk meninggalkan maksiat. Mungkin memang benar, maksiat ini telah terlampau banyak.
Ruangan ini, benar-benar membuat nostalgia, dengan rekan perjuangan yang kini telah jauh melangkah kedepan. Sedangkan saya, mundur selangkah dan masih tetap bertahan. Ah, ukhuwah, sudah lama sekali tak mendengar kata ini, bagaimana kabarnya? Sedang dalam bentuk rupa apakah ia?

Dalam ruangan ini, terlihat juga beberapa muka yang cukup familiar yang saya rasa tingkat “kealiman nya “ sudah cukuup tinggi. #eh.hehe ya dua orang teman seangkatan saya yang mungil dari departemen sebelah ATK dan WD terlihat sedikit malu-malu. Ada juga dua orang teman SC saya yang saya rasa tingkat kepahamannya sudah lebih jua dari rata-rata. namun, belajar tak mengenal usia bukan? Mencari ilmu pun tak bisa dibatas waktu. Hanya waktu yang mampu membatasimu, ketika engkau sudah berkain kafan di akhir kelak. Itupun kamu juga masih dalam tahap belajar bahwasanya semua yang hidup di bumi ini akan kembali ke penciptaNya.
****
Singkat cerita, senja mulai meninggi di Langit Bogor. Kemilaunya memedar indah diantara balutan rinai yang turun sedu sedan. Malu-malu untuk membenamkan dirinya ke dalam tanah.

Sebuah mobil sedan berwarna putih telah menunggu di parkiran Gor. Sebut saja AA temen saya yang paling kece (beliau tak ingin disebut nama :D) bersama si BB kami melaju menuju Jakarta. Sudah dipastikan memang, jam segini tak akan ada kedubes yang menerima tamu. Namun telah jauh hari saya katakan pada seorang petugas administrasi karena tinggal di Bogor, maka saya meminta untuk di wawancara di kediaman si penguji langsung.Dan satu setengah jam perjalanan ini hanya untuk mengambil berkas yang baru dikeluarkan hari ini.
***
Setelah mengganjal perut dan shalat Maghrib, perjalanan berlanjut dan saya hanya meminta AA untuk mengantarkan saya ke Stasiun terdekat saja. sementara AA dan BB saya paksa pulang karena mereka memang sudah ada janji malam minggu ini, #maklum malam minggu (Terimakasih banyak telah mengantarkan saya teman).
Desak-desakan naik kereta pada jam kepulangan kerja adalah hal yang tak dapat terhindarkan. Tingkat kewaspadaan pun mesti sangat ditingkatkan.
Hingga sampailah di alamat yang dituju dengan terlebih dahulu naik angkot versi Jakarta. Masuk kekediaman bapak C, terlihat masih ada satu orang lagi yang menunggu giliran wawancara. Berkenalan, wajib sekali hukumnya. Dan setelah ngobrol sejenak, ternyata beliau saat ini statusnya juga masih menjadi mahasiswa di salah satu univ di Jakarta, bedanya dia masih semester 4. Sedangkan saya Semester enam. ENAM. Bahasa Arabnya fasih sekali, ah, iri tentu saja menyelimuti diumurnya yang masih sangat muda dia bahkan tak hanya fasih fix banget

Menerjang Hujan

Menerjang Hujan

Arab Inggris saja, namun juga Mandarin. Saya pun mengingat ingat ketika umur saya saat itu, apa yang saya kerjakan?? Sedih ? tentu. Tapi masa lalu tak akan pernah bisa diulang kembali. Dan saat ini yang bisa dilakukan adalah belajar, belajar dan belajar. bila tak tahan lelahnya belajar maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan -Imam syafi’i-
***
Saya adalah orang terakhir yang datang, setelah selesai semua. Dan dari ketiga orang ini, saya pun semakin yakin bahwa saat ini saya belum memiliki ilmu yang patut dibanggakan. saya tidak punya apa-apa. Ilmu saya masih cetek, masih banyak hal yang harus saya pelajari. Dan tidak semua ilmu itu dapat kau temukan di bangku perkuliahan. Karenanya jangan salahkan seseorang jika ada yang teramat nyaman berada di lingkungan organisasi atau sejenisnya, karena hidup ini memang tak butuh banyak teori. IPK hanya mengantarkanmu untuk bisa ikut wawancara, setelah itu ? pengalaman diluar perkuliahan yang menentukan.
Jadi, untukmu adik-adikku dan bahkan untuk diriku sendiri juga yang IPKnya tak terlalu dewa-dewa amat, jangan berkecil hati kawan. “kita punya dunia yang orang lain tak memilikinya” begitu pesan terakhir dari bapak penguji ini kepada kami. Hidup terlalu kerdil jika selalu diukur dengan rentetan angka-angka. Namun jangan sampai pula di remehkan. Yang terpenting tetap belajarlah dan lakukan semua yang terbaik menurut kawan. karena kita punya Passion di masing2 hal.
***
Setelah pamit, perjalanan pulang dimulai. Kebetulan satu orang teman ini adalah lulusan SMA tahun lalu, namun saat ini belum kuliah. Namun sekali lagi jangan tafsirkan seseorang berdasarkan usia, karena dirinya kuyakin jauh lebih baik. Terlihat dari mimik muka dan cara ia menjawab pertanyaan bapak ketika wawancara tadi. Dewasa. Bahasa Arabnya pun sangat fasih. Setelah bertukar nomer handphone, dia pun pamit. Turun di stasiun Depok. Sedangkan aku meluncur kembali ke kota hujan.

Entah apa yang ada dipikiran, saya malah memilih untuk turun di stasiun Cilebut. Dan ternyata hujan sedang lebatnya. Belum lagi petir yang menyambar2. Turun di Cilebut, berteduh sebentar di Stasiun, karena pintu keluar sangatlah padat karena tak ada yang beranjak. Terlihat anak-anak kecil sepantaran keponakan saya dirumah, sedang memanfaatkan hujan untuk mencari rizky, ojek payung. Ya Allah, dalam hatiku bergetar, kurang adil apa Allah kepada hambanya?? Ketika sedikit kusesalkan mengapa waktu kecilku tak pernah ada waktu untuk belajar bahasa, les dan semacamnya lebih banyak. Mereka anak-anak kecil yang luar biasa itu bahkan tak tahu apakah masih sekolah atau tidak. Ada yang tanpa sendal, sedang merayu-rayu ibu-ibu d stasiun untuk menggunakan payungnya, ada juga yang sedang melamun menunggu panggilan. Ah, mereka sangat luar biasa. Bahkan saya pun tak sempat berpikir “jika saya menjadi mereka, apakah saya bisa”.

Berdo’a dalam hati, ya Allah semoga mereka bisa tumbuh dan berkembang dan bisa merasakan nikmat yang telah saya rasakan sekarang. Simple, namun inilah proses belajar. Mengenali saudara kita lebih dekat yang mungkin bahkan tak terjamah oleh kita. Ah, melankolis ini meningkat tajam. Dibawah guyuran hujan langit bogor yang kian kelam. Banyak sekali kata yang meledak-ledak hendak keluar. Bak pendulum besi yang sangat tajam, merobek batas pembatas . Sudah lama sekali rasanya tak menemukan hal seperti ini. kehidupan di kampus yang hanya berkutat dengan siklus yang sama, sudah pasti membuat jenuh mendera. Puisi ah, sudah lama tak menulis puisi. Setahun belakangan ini terlampau sibuk dengan sesuatu yang berbau ilmiah.
Ku robek secari kertas, kubiarkan ia drawing pen 0.1 ini menari-nari dengan lincahnya bersama hujan yang tak kunjung reda. Meramu kata demi kata, maeracik ia sebagai perpaduan kalimat yang bisa menyajikan sebuah cerita. Berharap suatu saat bisa satu kali saja bertemu dengan salah satu sastrawan inspirasional yang sangat menginspirasi : Bapak Taufik Ismail dan Andrea Hirata.
***
Hujan masih saja tak mau berhenti, untuk kesekian kalinya bersyukur pada Allah, atas semua nikmat dan kesempatan yang telah diberikan dimana tak semua orang bisa merasakannya.
Angkot 07 jurusan Bojong Gede-pasar anyar telah tersedia didepan mata. Hanya terisi 4 orang manusia + supir di dalamnya.
***
Sedikit keluar dari jalur, hingga tak tahu kenapa lagi tiba-tiba saja ingin melihat Cisadane lagi dimalam hari. Jembatan yang agak licin, serta derasnya air dibawah bendungan cukup suram untuk dibayangkan. Akan tetapi, sudah terlanjur sampai dan kapan lagi ada waktu seperti ini. maka manfaatkanlah.
Cisadane, tak perlu saya jelaskan lebih lebar. (silahkan cari di google) yang jelas pertama saya jatuh cinta, ketika menginjakan kaki pertama bersama Afifah, ramlan, Digo dan Rizky waktu itu untuk melakukan pengamatan. Ke rumahnya pak krisna yang kebtulan saya sudah kenal cukup dekat. Sambil silaturahim dimalam hari. Rumah beliau tak jauh dari Bendungan Cisadane. Ceritanya waktu itu, teman saya mau mencari kosan di daerah sini, dan pak krisna inilah yang membantu mencarikan.Disuguhi teh hangat dan roti, lumayanlah buat malam hari. Hhe (mahasiswa kudu pinter yang beginian).

Cisadane Maroko kulihat iya begitu dekat, kuyakin walaupun bukan sekarang, Allah akan selalu menempatkan hambaNya pada tempat terbaik. Riak Cisadane terlihat sepeti Laut tengah yang sedang menunggu. Dan langit Bogor pun menjadi saksi.
Sudah menunjukan pukul 10 malam, kantuk pun sudah mulai merayap-rayap dimata. Setelah pamit, bergegas cari angkot 14 menuju Laladon. Do’aku malam ini : “Ya Allah jikalau ini baik, maka pantaskanlah diriku untuk menerimanya, namun jikalau ini buruk maka tetapkanlah aku disini selagi menunggu waktu yang semestinya”

Terlepas dari nanti saya lolos ataupun tidak, yang pasti 11 MEI 2013 ini cukup berkesan dihati. Sederhana memang, Nothing special menurut anda. Tapi bagi saya, setiap langkah dan perjalanan ini mengandung makna yang tak akan bisa diulang lagi. sebuah Mozaik yang akan terpingkal jika satu saja tak ada di dalamnya.
Banyak cerita yang hendak tersampaikan, namun mengetik ini saja sudah letih sekali. yang pasti terimakasih banyak untuk kedua teman saya AA dan BB yang telah menemani saya malam ini. Mobilnya kenceng banget hehe. Terimaksih sudah mengulurkan bantuan tanpa diminta hehe hanya Allah yang mampu membalas kebaikan kalian.

untuk kedua orang tua, serta keluarga besar yang tak hentinya mendukung saya atas semua keputusan yang dipilih, ibu, ayah, olin, Zelal, cik , mamok, uwo, nenek, kakek,ka pewi, ka era, ka cici dan semua yang tak dapat disebut satu persatu. Do’akan supaya bisa balik ke Kerinci secepatnya yoo. Terimaksih untuk supportnyo

untuk temen sekamar saya yang sekarang di pulau seberang, Sulawesi. Ihsangpetualang ketemu di Paris kita yaa hhe terimaksih coy supportnya

Untuk Izi temen sekelas saya yang udah ngebantu tugas-tugas saya dua hari ini. dan untuk semua pihak yang terlibat dibelakang layar. Semoga Allah mendengar tiap do’a kalian.
“Kita bisa berencana, tapi keputusan itu ada di tangan Allah”

(Mohon maaf jika EYD yang kurang benar, atau ada kesalahan. karena tanpa penyuntingan sebelumnya *ngantuk) hanya ingin berbagi, dan semoga bisa menerima.

“ Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan. ”

— Imam Syafii-